Tantangan Harian dari Buku 'Thinking, Fast and Slow' — Daniel Kahneman
Panduan tantangan harian lengkap dari buku Thinking, Fast and Slow karya Daniel Kahneman. 15 hari latihan praktis untuk mengenali bias kognitif
🧠 Tantangan 15 Hari: Berpikir Cepat dan Lambat — Daniel Kahneman
Panduan Bahasa Sederhana untuk Semua Umur
📑 Daftar Isi
- Pendahuluan: Tentang Buku dan Penulisnya
- Hari 1 — Berkenalan dengan Dua Otak di Kepala Kamu
- Hari 2 — Otak yang Malas: Kenapa Kita Suka Jalan Pintas
- Hari 3 — Jebakan Jangkar: Angka Pertama yang Menipu
- Hari 4 — Mudah Diingat = Sering Terjadi? Belum Tentu!
- Hari 5 — Jangan Nilai Orang dari Tampilan Luarnya
- Hari 6 — Yang Terlihat Bukan Segalanya
- Hari 7 — Kesan Pertama yang Menipu (Efek Lingkaran Cahaya)
- Hari 8 — Terlalu Percaya Diri Itu Berbahaya
- Hari 9 — "Aku Sudah Tahu dari Awal!" — Benarkah?
- Hari 10 — Takut Kehilangan Lebih Kuat dari Ingin Mendapat
- Hari 11 — Cara Menyampaikan Mengubah Cara Memilih
- Hari 12 — Jebakan "Sudah Terlanjur"
- Hari 13 — Dua Diri Kamu: Yang Merasakan dan Yang Mengingat
- Hari 14 — Kenapa Rencana Kita Selalu Meleset?
- Hari 15 — Menggabungkan Semuanya: Hidup dengan Pikiran Lebih Jernih
- Ringkasan: 15 Hari, 15 Pelajaran
- Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
- Sumber dan Rujukan
Pendahuluan: Tentang Buku dan Penulisnya
Berpikir Cepat dan Lambat adalah buku yang ditulis oleh Daniel Kahneman, seorang ilmuwan yang mempelajari cara manusia berpikir dan mengambil keputusan. Kahneman lahir di Israel dan bekerja di Amerika Serikat. Ia memenangkan Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2002 — yang luar biasa, karena sebenarnya ia bukan ahli ekonomi, melainkan ahli jiwa (psikolog). Buku ini terbit tahun 2011 dan sudah dibaca oleh lebih dari 2 juta orang di seluruh dunia. Buku ini merangkum penelitian selama hampir 50 tahun yang ia lakukan bersama sahabatnya, Amos Tversky.
Ide utama buku ini sangat sederhana: otak kita punya dua cara berpikir yang sangat berbeda. Cara pertama sangat cepat dan otomatis — seperti pilot otomatis di pesawat. Cara kedua sangat lambat dan butuh konsentrasi — seperti pilot sungguhan yang mengambil alih kendali. Masalahnya? Cara berpikir cepat sering membuat kesalahan yang tidak kita sadari, dan cara berpikir lambat terlalu malas untuk mengoreksi kesalahan itu. Akibatnya, kita mengambil keputusan yang buruk setiap hari sambil merasa yakin bahwa kita sudah berpikir dengan benar.
Buku aslinya terdiri dari 5 bagian dan 38 bab yang sangat tebal dan berat. Panduan ini menyederhanakan inti buku tersebut menjadi 15 hari tantangan yang bisa langsung kamu praktikkan. Setiap hari membahas satu "jebakan pikiran," menjelaskannya dengan bahasa sehari-hari dan contoh yang dekat dengan kehidupan kita, lalu memberikan misi yang bisa kamu kerjakan hari itu juga. Tidak ada istilah rumit. Tidak perlu jadi ahli. Cukup baca, pahami, dan coba.
🧠 Hari 1 — Berkenalan dengan Dua Otak di Kepala Kamu
Bagian Pertama Buku: Dua Cara Berpikir
Bayangkan kamu sedang berjalan kaki dari rumah ke warung yang sudah sering kamu datangi. Kamu tidak perlu berpikir mau belok kiri atau kanan di setiap persimpangan — kakimu otomatis tahu jalannya. Sambil berjalan, kamu bisa melamun, memikirkan PR, atau mendengarkan musik. Kakimu tetap sampai di warung. Nah, siapa yang "menyetir" kakimu selama kamu melamun? Itulah Otak Cepat — bagian dari otakmu yang bekerja tanpa usaha, sangat cepat, dan tanpa kamu sadari. Otak Cepat inilah yang mengenali wajah temanmu, menghitung 1+1, menangkap bola yang dilempar ke arahmu, dan membaca ekspresi wajah ibumu yang sedang kesal.
Sekarang bayangkan gurumu tiba-tiba bertanya: "Berapa 17 dikali 24?" Kamu tidak bisa menjawabnya sambil melamun. Kamu harus berhenti, mengerutkan dahi, dan berkonsentrasi penuh. Mata kamu membesar sedikit. Kamu mungkin perlu menghitung di kertas. Itulah Otak Lambat — bagian dari otakmu yang lambat, sadar, butuh usaha keras, dan cepat lelah. Otak Lambat dipakai untuk menghitung matematika yang rumit, membandingkan harga di toko, menulis karangan, atau memutuskan mau masuk jurusan apa.
Bekerja tanpa usaha. Selalu aktif. Sangat cepat. Bekerja berdasarkan perasaan, kebiasaan, dan pengalaman. Contoh: mengenali bahwa seseorang sedang marah dari wajahnya, tahu bahwa 1+1=2, paham bahwa api itu panas, menangkap bola secara refleks. Kelemahannya: sering membuat kesalahan yang terasa "benar" dan terlalu percaya diri pada jawabannya sendiri.
Butuh konsentrasi dan usaha. Mudah capek. Kapasitasnya terbatas — tidak bisa mengerjakan dua tugas berat sekaligus. Contoh: menghitung 17×24, memilih antara dua HP yang mau dibeli, menulis surat resmi, memarkir sepeda motor di tempat sempit. Kelemahannya: malas — ia sering menerima jawaban dari Otak Cepat tanpa mengecek ulang, kecuali dipaksa.
Kahneman menjelaskan bahwa kedua otak ini bekerja bersama sepanjang hari. Otak Cepat terus-menerus menghasilkan kesan, perasaan, dan saran yang dikirim ke Otak Lambat. Kalau semuanya berjalan biasa saja, Otak Lambat menerima saran itu tanpa banyak mikir — ini menghemat tenaga. Masalah muncul ketika Otak Cepat menghadapi pertanyaan yang sebenarnya butuh analisis mendalam, tapi ia tetap menjawab dengan cepat dan penuh percaya diri. Sementara itu, Otak Lambat yang seharusnya mengecek jawaban itu terlalu malas untuk bekerja. Hasilnya? Kita tertipu oleh pikiran kita sendiri.
Kamu melihat orang bertato dan otakmu langsung berpikir "orang itu pasti nakal." Itu Otak Cepat bekerja — mencocokkan penampilan dengan kesan yang sudah tersimpan. Otak Lambat seharusnya bertanya: "Tunggu, apa hubungannya tato dengan perilaku? Banyak dokter dan guru yang bertato." Tapi karena Otak Lambat malas, kesan pertama itu langsung diterima sebagai "kebenaran."
Hari ini, cobalah menangkap 3 momen di mana Otak Cepat kamu mengambil keputusan tanpa kamu sadari. Contoh: saat kamu langsung menyukai atau tidak menyukai seseorang yang baru kamu temui (padahal belum kenal), saat kamu langsung membeli jajanan karena "rasanya pengen aja" tanpa mikir, atau saat kamu langsung percaya cerita teman tanpa bertanya lebih lanjut. Tuliskan 3 momen itu di catatan HP kamu malam ini. Tidak perlu mengoreksinya — cukup sadari saja dulu. Kesadaran adalah langkah pertama.
😴 Hari 2 — Otak yang Malas: Kenapa Kita Suka Jalan Pintas
Bab 3: Pengendali yang Malas
Salah satu penemuan paling penting dari Kahneman adalah bahwa Otak Lambat itu sangat malas. Berpikir dalam-dalam itu capek! Otak kita hanya seberat kira-kira 1,4 kilogram (sekitar 2% dari berat badan), tapi ia menghabiskan sekitar 20% dari seluruh energi tubuh. Jadi berpikir keras itu benar-benar "mahal." Karena itulah otak secara alami mencari cara untuk menghindari pekerjaan berat. Ia lebih suka mengambil jalan pintas — menjawab pertanyaan sulit dengan cepat menggunakan perasaan dan kebiasaan, daripada harus berpikir pelan-pelan dengan cermat.
Jalan pintas ini disebut "aturan praktis" oleh para ilmuwan — semacam rumus simpel yang dipakai otak untuk menjawab pertanyaan rumit dengan cepat. Aturan praktis ini sering kali benar (itulah kenapa kita masih memakainya setiap hari), tapi dalam situasi tertentu, aturan ini menghasilkan kesalahan yang bisa diprediksi. Kesalahan-kesalahan inilah yang disebut "jebakan pikiran." Kamu tidak bodoh karena terkena jebakan pikiran. Kamu terjebak karena otakmu memang dirancang untuk cepat dan hemat, bukan untuk selalu tepat.
Kahneman pernah melakukan percobaan menarik: orang yang sedang berjalan santai diminta menghitung soal matematika yang sulit. Apa yang terjadi? Mereka berhenti berjalan. Otak mereka tidak bisa memproses tugas yang berat sambil menggerakkan kaki — Otak Lambat memonopoli seluruh tenaga. Ini juga menjelaskan kenapa kamu mematikan musik saat mencari alamat yang tidak kamu kenal, atau kenapa kamu tidak bisa mendengarkan guru bicara sambil mengetik pesan di HP. Otak Lambat punya kapasitas terbatas, dan kalau ia sedang sibuk, Otak Cepat mengambil alih — bersama semua jebakan-jebakannya.
Ketika sesuatu terasa mudah dicerna (tulisan yang jelas, ide yang sudah sering didengar, suasana hati yang bagus), otakmu dalam kondisi "nyaman" — Otak Cepat yang berkuasa, kamu lebih kreatif tapi juga lebih mudah tertipu. Ketika sesuatu terasa sulit dicerna (tulisan yang kecil, ide yang asing, suasana hati yang waspada), otakmu dalam kondisi "tegang" — Otak Lambat lebih aktif, kamu lebih teliti tapi juga lebih cepat capek.
Kamu diminta guru untuk membaca dua versi soal ujian. Versi pertama dicetak dengan huruf yang besar dan jelas. Versi kedua dicetak dengan huruf yang kecil dan agak buram. Kebanyakan murid menjawab soal versi kedua dengan lebih teliti dan lebih benar! Kenapa? Karena huruf yang sulit dibaca memaksa Otak Lambat untuk bangun dan bekerja. Sementara huruf yang jelas membuat Otak Lambat malas — ia pikir semuanya gampang, jadi ia tidak mengecek jawaban dari Otak Cepat.
Hari ini, pilih satu keputusan yang biasanya kamu buat secara otomatis dan paksa dirimu untuk memikirkannya selama 2 menit sebelum bertindak. Contoh: sebelum memesan makanan (yang biasanya kamu pilih dalam 5 detik), berhentilah dan tanyakan: "Apa ini benar-benar yang aku mau, atau aku cuma milih karena kebiasaan? Ada pilihan yang lebih enak atau lebih murah nggak ya?" Lakukan hal yang sama untuk satu keputusan lain di sore hari. Catat apa yang kamu temukan.
⚓ Hari 3 — Jebakan Jangkar: Angka Pertama yang Menipu
Bab 11: Jangkar
Pernahkah kamu melihat harga coret Rp500.000 di toko daring, lalu di bawahnya ada harga "diskon" Rp250.000, dan kamu langsung merasa "wah murah banget!"? Padahal, mungkin harga wajar barang itu memang Rp250.000 — atau bahkan lebih rendah. Harga coret itu berfungsi sebagai "jangkar" — angka pertama yang dilihat otakmu dan menjadi patokan untuk menilai semua angka sesudahnya. Ini disebut Jebakan Jangkar.
Kahneman dan Tversky melakukan percobaan yang sangat terkenal. Mereka memutar roda keberuntungan yang sudah diatur supaya berhenti di angka 10 atau 65. Setelah itu, peserta ditanya: "Menurut kamu, berapa persen negara Afrika yang jadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa?" Orang yang mendapat angka 10 menjawab rata-rata 25%. Orang yang mendapat angka 65 menjawab rata-rata 45%. Padahal angka dari roda keberuntungan itu jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan geografi! Tapi tetap saja, angka acak itu memengaruhi jawaban mereka secara diam-diam.
Kenapa bisa begitu? Karena Otak Cepat "menempelkan" angka pertama yang ia lihat dan menjadikannya titik awal. Lalu Otak Lambat yang malas hanya melakukan penyesuaian kecil dari titik awal itu — alih-alih menghitung dari nol. Jebakan jangkar ada di mana-mana: harga "sebelum diskon" di toko daring, angka pertama yang disebut saat tawar-menawar, gaji pertama yang disebutkan saat melamar kerja, bahkan urutan hidangan di menu restoran (hidangan termahal sengaja ditaruh paling atas supaya hidangan lain terasa "murah").
Apa itu: Kecenderungan otak untuk terlalu bergantung pada angka atau informasi pertama yang kita terima, lalu menggunakannya sebagai patokan untuk semua penilaian selanjutnya — meskipun angka itu tidak ada hubungannya. Bahayanya: Kita merasa sudah berpikir sendiri, padahal pikiran kita sudah "ditarik" oleh jangkar yang mungkin sengaja dipasang orang lain. Penangkalnya: Selalu tentukan perkiraan kamu sendiri sebelum melihat angka dari orang lain.
Kamu mau beli sepatu di pasar. Penjual bilang: "Harganya Rp500.000, Dik." Kamu langsung menawar: "Rp300.000 ya, Bang?" Kamu merasa sudah menawar keras. Padahal, mungkin harga wajar sepatu itu cuma Rp150.000. Tapi karena otakmu sudah dijangkar di angka Rp500.000, bahkan tawaranmu pun masih "tertarik" ke arah jangkar itu. Kalau kamu sudah riset harga sebelumnya dan tahu sepatu serupa dijual Rp150.000 di tempat lain, kamu tidak akan mulai menawar dari Rp300.000.
Hari ini, perhatikan 3 angka atau harga yang mencoba memengaruhi keputusanmu. Bisa berupa: harga coret di toko daring, tulisan "harga normal" vs "harga promo" di minimarket, atau angka pertama yang disebut saat membahas uang jajan. Setiap kali kamu melihat jangkar, tanyakan: "Berapa harga yang AKU anggap wajar SEBELUM melihat angka ini?" Tulis hasilnya. Kamu mungkin terkejut betapa sering angka-angka "acak" memengaruhi penilaianmu tanpa kamu sadari.
📰 Hari 4 — Mudah Diingat = Sering Terjadi? Belum Tentu!
Bab 12–13: Jebakan Ketersediaan Ingatan
Mana yang lebih berbahaya: naik pesawat terbang atau naik sepeda motor? Kebanyakan orang merasa pesawat lebih menakutkan. Padahal menurut data, kemungkinan celaka karena naik motor itu ribuan kali lebih besar dibanding naik pesawat. Kenapa otak kita salah? Karena otak menilai "seberapa sering sesuatu terjadi" berdasarkan seberapa mudah kita mengingat contohnya. Kecelakaan pesawat diberitakan di TV berhari-hari dengan gambar yang mengerikan, jadi sangat mudah diingat. Kecelakaan motor terjadi setiap hari di mana-mana, tapi jarang jadi berita besar, jadi "terasa" lebih jarang.
Jebakan ini bekerja berdasarkan kejernihan ingatan. Semakin dramatis, mengerikan, atau dekat secara pribadi sebuah peristiwa, semakin mudah diingat, dan semakin "terasa" sering terjadi. Inilah kenapa setelah menonton film tentang hiu, kamu merasa takut berenang di laut — padahal kemungkinan diserang hiu hampir nol (sekitar 1 dari 11 juta). Inilah juga kenapa orang tua yang baru menonton berita tentang penculikan anak jadi sangat khawatir, meskipun data menunjukkan bahwa secara umum dunia lebih aman sekarang dibanding 30 tahun lalu.
Jebakan ini juga sering dimanfaatkan oleh media dan orang-orang yang ingin memengaruhi pendapat kita. Dengan memberitakan jenis kejahatan tertentu berulang-ulang, mereka menciptakan kesan bahwa kejahatan itu sedang "meledak" — bahkan ketika data statistik menunjukkan sebaliknya. Otakmu tidak menghitung angka; otakmu menghitung seberapa gampang ia mengingat contoh.
Pilih satu hal yang kamu "rasakan" sering terjadi atau berbahaya — misalnya: pembobolan rumah, gempa bumi, serangan binatang buas, atau penipuan di internet. Sebelum mencari data, tuliskan perkiraanmu tentang seberapa sering itu terjadi. Lalu, cari data sebenarnya di internet. Bandingkan perasaanmu dengan fakta. Apakah ada perbedaan besar? Kalau iya, berarti kamu baru saja menangkap jebakan "mudah diingat" beraksi. Ingat: "mudah diingat" belum tentu berarti "sering terjadi."
🎭 Hari 5 — Jangan Nilai Orang dari Tampilan Luarnya
Bab 14–16: Jebakan Kemiripan
Kahneman memberikan teka-teki terkenal: "Linda berusia 31 tahun, belum menikah, suka bicara terus terang, dan sangat pintar. Waktu kuliah, ia sering ikut aksi demo membela keadilan." Nah, mana yang lebih mungkin? (A) Linda bekerja sebagai pegawai bank. (B) Linda bekerja sebagai pegawai bank yang juga aktif dalam gerakan perempuan. Kebanyakan orang memilih B. Tapi jawaban itu salah secara logika! Kenapa? Karena "pegawai bank" itu mencakup SEMUA pegawai bank — termasuk yang aktif dalam gerakan perempuan. Jadi pilihan A secara matematika selalu lebih mungkin daripada pilihan B, karena B itu bagian kecil dari A.
Kenapa kita terjebak? Karena Otak Cepat langsung mencocokkan cerita tentang Linda dengan bayangan kita tentang "perempuan pejuang keadilan" — dan menyimpulkan bahwa jawaban B lebih "cocok" dengan ceritanya. Otak kita menilai kemungkinan berdasarkan kemiripan dengan bayangan di kepala, bukan berdasarkan logika atau data. Kita lebih percaya pada cerita yang "masuk akal" daripada angka yang benar. Ini terjadi setiap hari: kita menilai orang dari tampilannya (pakai jas = sukses, rambut gondrong = pemalas), menilai restoran dari dekorasinya, atau menilai buku dari sampulnya.
Jebakan ini juga membuat kita mengabaikan angka dasar. Kalau 90 dari 100 murid di sekolah adalah jurusan IPA dan 10 murid jurusan IPS, lalu kamu ketemu seseorang yang "suka baca puisi dan senang menggambar," Otak Cepat langsung menebak dia anak IPS. Padahal secara statistik, dia jauh lebih mungkin anak IPA yang kebetulan suka seni — karena jumlah anak IPA 9 kali lebih banyak!
Hari ini, perhatikan saat kamu menilai seseorang dari penampilan atau kesan pertama. Mungkin kamu menilai tukang ojek dari wajahnya, menilai kepintaran seseorang dari cara bicaranya, atau menilai kualitas warung dari tampilan depannya. Setiap kali itu terjadi, berhentilah dan tanyakan: "Kalau aku abaikan penampilannya, apa data sebenarnya yang aku punya tentang orang ini?" Catat 2 momen di mana bayangan di kepalamu hampir mengelabuimu hari ini.
👁️ Hari 6 — Yang Terlihat Bukan Segalanya
Bab 7: Mesin Pembuat Kesimpulan Kilat
Otak kita punya kebiasaan aneh yang sangat berbahaya: ia membuat kesimpulan lengkap hanya berdasarkan informasi yang ada di depan mata saat ini, tanpa pernah bertanya "Hmm, mungkin ada informasi lain yang belum aku tahu." Kahneman menyebutnya "Yang Terlihat Adalah Segalanya." Otakmu tidak pernah bilang: "Aku belum punya cukup data untuk menyimpulkan." Sebaliknya, ia bilang: "Dengan apa yang ada, ini jawabannya!" — dan langsung merasa sangat yakin.
Ini menjelaskan kenapa kita membentuk pendapat kuat tentang seseorang setelah hanya mendengar satu sisi cerita. Temanmu mengeluh tentang gurunya, dan kamu langsung menyimpulkan gurunya memang jahat — tanpa pernah mendengar penjelasan si guru. Jebakan ini juga menjelaskan kenapa berita yang hanya menyajikan satu sudut pandang sangat efektif mengubah pendapat orang: otak tidak secara otomatis bertanya "Eh, bagaimana versi cerita dari sisi yang lain?"
Yang paling mengejutkan: semakin sedikit informasi yang kamu punya, semakin mudah membangun cerita yang masuk akal, dan semakin yakin kamu pada cerita itu. Ini kebalikan dari yang seharusnya! Seharusnya kalau informasi kita sedikit, kita lebih ragu. Tapi kenyataannya, Otak Cepat justru lebih percaya diri kalau ceritanya sederhana dan tidak ada informasi yang "mengganggu."
Hari ini, setiap kali kamu punya pendapat kuat tentang sesuatu — berita di media sosial, keluhan teman, gosip di sekolah — berhentilah dan tanyakan tiga pertanyaan ini: (1) "Informasi apa yang BELUM aku tahu?" (2) "Bagaimana cerita ini kalau dilihat dari sisi yang lain?" (3) "Apakah pendapatku akan berubah kalau aku dapat informasi tambahan?" Kamu tidak perlu mengubah pendapatmu — cukup akui bahwa kamu belum tahu segalanya. Itu saja sudah langkah besar.
✨ Hari 7 — Kesan Pertama yang Menipu (Efek Lingkaran Cahaya)
Bab 7–8: Bagaimana Penilaian Terbentuk
Kalau seseorang berpenampilan rapi dan tampan, Otak Cepat kamu secara otomatis menganggap dia juga pintar, baik hati, dan bisa dipercaya — padahal penampilan luar tidak ada hubungannya dengan kecerdasan atau karakter. Sebaliknya, kalau kesan pertamamu tentang seseorang negatif (misalnya dia terlambat datang ke pertemuan), kamu akan cenderung menilai semua ide-idenya lebih rendah selama pertemuan itu — meskipun idenya bagus. Inilah yang disebut Efek Lingkaran Cahaya: kesan bagus (atau jelek) tentang seseorang di satu bidang "merembes" dan mewarnai penilaian kita di bidang-bidang lain yang sebenarnya tidak berhubungan.
Kahneman menceritakan pengalamannya sendiri saat menjadi guru. Ketika menilai karangan murid, ia menemukan bahwa nilai karangan pertama sangat memengaruhi nilai karangan berikutnya. Kalau karangan pertama murid itu bagus, ia cenderung memberi nilai tinggi pada karangan kedua — meskipun karangan kedua biasa-biasa saja. "Cahaya" dari karangan pertama menerangi penilaian karangan-karangan selanjutnya. Solusinya? Kahneman mulai menilai semua karangan pertama dari seluruh murid, baru setelah itu beralih ke karangan kedua — supaya setiap karangan dinilai secara sendiri-sendiri tanpa pengaruh dari karangan sebelumnya.
Efek ini ada di mana-mana: artis yang tampan dipercaya untuk mengiklankan produk keuangan (apa hubungannya?). Perusahaan yang produk pertamanya sukses langsung dianggap "pasti hebat" di semua produk lainnya. Teman yang pandai bercanda langsung dianggap juga pandai dalam semua hal. Bahkan di pengadilan, penelitian menunjukkan bahwa orang yang berpenampilan menarik cenderung mendapat hukuman yang lebih ringan untuk kasus yang sama dibanding orang yang penampilannya biasa saja.
Hari ini, perhatikan saat kamu menilai seseorang atau sesuatu berdasarkan satu hal yang menonjol. Mungkin kamu menganggap teman yang supel pasti juga pintar, atau warung yang dekorasinya bagus pasti makanannya enak, atau barang dari merek terkenal pasti berkualitas tinggi. Tanyakan: "Aku menilai ini karena fakta tentang hal ini, atau karena kesan umum yang 'merembes' dari hal lain?" Cobalah menilai setiap hal secara terpisah dan mandiri.
🎯 Hari 8 — Terlalu Percaya Diri Itu Berbahaya
Bagian Ketiga Buku: Rasa Percaya Diri Berlebihan
Kahneman menyebut rasa percaya diri yang berlebihan sebagai "jebakan pikiran yang paling merusak" dari semua jebakan. Manusia secara alamiah terlalu yakin dengan pengetahuan, perkiraan, dan kemampuannya sendiri. Dalam percobaan klasik, ketika orang diminta menjawab pertanyaan dan memberikan tingkat keyakinan 90% (artinya mereka 90% yakin jawabannya benar), ternyata jawaban yang benar hanya muncul sekitar 50% dari waktu. Kita mengira kita tahu lebih banyak dari yang sebenarnya kita ketahui.
Rasa percaya diri berlebihan punya beberapa wajah. Pertama, ilusi memahami — kita merasa mengerti peristiwa masa lalu lebih dari yang sebenarnya, karena setelah sesuatu terjadi, kita membangun cerita yang membuatnya terlihat "pasti bakal terjadi." Kedua, ilusi keakuratan — kita terlalu yakin pada perkiraan masa depan kita sendiri, padahal catatan keakuratan kita sebenarnya jelek. Kahneman menemukan bahwa bahkan para ahli — pengamat saham, analis politik, peramal cuaca ekonomi — kemampuannya menebak masa depan tidak lebih baik dari asal tebak, seperti yang dibuktikan oleh peneliti Philip Tetlock.
Lalu kapan perasaan atau naluri kita bisa dipercaya? Hanya kalau dua syarat terpenuhi: pertama, lingkungannya teratur (polanya konsisten dan bisa dipelajari). Kedua, kamu punya pengalaman panjang dengan umpan balik yang cepat. Naluri seorang pemain catur jago bisa dipercaya karena ia sudah melihat ribuan pola yang konsisten. Tapi naluri seorang pengamat saham sulit dipercaya karena pergerakan harga saham terlalu acak dan tidak teratur.
Tuliskan 5 tebakan tentang apa yang akan terjadi besok — bisa tentang apa saja: "Besok hujan," "PR matematika akan dikumpulkan," "Aku akan bangun sebelum jam 6." Beri skor keyakinanmu untuk setiap tebakan (0 sampai 100%). Besok malam, cek mana yang benar. Hitung ketepatanmu. Kalau kamu memberi skor 90% tapi yang benar cuma 50-60%, selamat — kamu baru saja menemukan rasa percaya diri berlebihan di dalam dirimu sendiri.
🔮 Hari 9 — "Aku Sudah Tahu dari Awal!" — Benarkah?
Bab 19: Ilusi Memahami Masa Lalu
"Aku sudah tahu dari awal kalau timnya bakal kalah!" — Berapa kali kamu mendengar atau mengucapkan kalimat seperti ini? Ini disebut Jebakan Melihat ke Belakang — kecenderungan kita untuk merasa bahwa peristiwa masa lalu itu "sudah jelas" dan "pasti terjadi" — padahal sebelum peristiwa itu terjadi, kita sama bingungnya dengan semua orang. Setelah tim sepak bola kalah, semua orang bilang "sudah jelas strateginya salah." Setelah ada gempa, semua orang bilang "sudah jelas tandanya ada." Padahal sebelumnya tidak ada yang bisa menebak dengan pasti.
Jebakan ini terjadi karena setelah mengetahui hasilnya, otak secara otomatis mengedit ulang ingatan kita supaya sesuai dengan hasil yang sudah diketahui. Kita benar-benar merasa bahwa kita "sudah melihatnya datang" — padahal ingatan itu sudah diedit tanpa kita sadari. Ini berbahaya karena membuat kita merasa dunia ini lebih bisa ditebak dari kenyataannya. Akibatnya, kita jadi terlalu percaya diri pada tebakan-tebakan kita tentang masa depan.
Malam ini, tuliskan tebakan kamu tentang 3 hal yang akan terjadi minggu depan — bisa tentang pelajaran, cuaca, berita, atau apa saja. Tulis juga alasannya dan seberapa yakin kamu. Jangan ubah catatan ini. Minggu depan, buka kembali dan bandingkan dengan kenyataan. Kamu akan menemukan bahwa banyak hal yang "terasa jelas" setelahnya ternyata sama sekali tidak kamu tebak sebelumnya. Ini obat terbaik untuk jebakan melihat ke belakang.
💸 Hari 10 — Takut Kehilangan Lebih Kuat dari Ingin Mendapat
Bagian Keempat Buku: Pilihan-Pilihan — Teori Prospek
Inilah penemuan yang membuat Kahneman memenangkan Hadiah Nobel: Teori Prospek. Intinya sederhana tapi mengubah segalanya: manusia merasakan rasa sakit dari kehilangan sekitar 2 kali lebih kuat dibanding kesenangan dari mendapatkan sesuatu yang sama nilainya. Kehilangan uang Rp50.000 terasa jauh lebih menyakitkan daripada senangnya mendapat uang Rp50.000. Ini bukan sesuatu yang masuk akal, tapi ini memang cara otak kita bekerja — bagian otak yang memproses kerugian bereaksi jauh lebih kuat daripada bagian yang memproses keuntungan.
Penemuan ini menjelaskan banyak perilaku kita yang tampak aneh. Kenapa orang tidak mau menjual barang koleksi yang sudah turun nilainya? Karena menjual berarti mengakui kerugian, dan itu menyakitkan. Kenapa orang mempertahankan pekerjaan yang membosankan dan tidak mau pindah ke pekerjaan baru yang lebih menjanjikan? Karena kehilangan yang sudah pasti (pekerjaan sekarang) terasa lebih menakutkan daripada kemungkinan mendapat sesuatu yang lebih baik. Kenapa orang mempertahankan pertemanan yang sudah tidak menyenangkan? Karena kehilangan teman (meskipun teman itu menyebalkan) terasa lebih menyakitkan daripada kemungkinan mendapat teman baru.
Kahneman juga menemukan Efek Kepemilikan: kita menilai sesuatu yang sudah kita punya jauh lebih tinggi dari nilai sebenarnya, hanya karena itu "milik kita." Dalam percobaan, mahasiswa yang diberi cangkir gratis menolak menjualnya di bawah Rp100.000, sementara mahasiswa lain yang belum punya cangkir itu hanya mau membeli di harga Rp40.000. Cangkir yang sama persis! Tapi rasa "ini milikku" menambah nilai 2 kali lipat di kepala si pemilik.
Pikirkan satu hal yang sedang kamu pertahankan meskipun sebenarnya sudah tidak bermanfaat — bisa berupa: aplikasi di HP yang tidak pernah dibuka, baju di lemari yang tidak pernah dipakai, pertemanan yang menguras tenaga, atau kebiasaan yang sudah tidak berguna. Tanyakan: "Aku mempertahankan ini karena memang bagus, atau karena aku takut kehilangan?" Kalau jawabannya ketakutan, coba lepaskan. Hapus satu aplikasi, buang satu barang, atau batalkan satu kebiasaan hari ini.
🖼️ Hari 11 — Cara Menyampaikan Mengubah Cara Memilih
Bab 34: Bingkai dan Kenyataan
Kahneman dan Tversky melakukan percobaan yang sangat terkenal. Bayangkan sebuah penyakit mematikan akan membunuh 600 orang di suatu kota. Ada dua cara penanganan. Ketika disajikan sebagai "Cara A menyelamatkan 200 orang" (disajikan secara positif), kebanyakan orang memilih Cara A. Tapi ketika disajikan sebagai "Cara B: 400 orang akan meninggal" (disajikan secara negatif), kebanyakan orang malah memilih opsi lain yang lebih berisiko. Padahal "menyelamatkan 200 dari 600" dan "400 dari 600 meninggal" itu artinya persis sama! Yang berbeda hanya cara menyampaikannya.
Inilah Jebakan Bingkai — kecenderungan kita untuk membuat keputusan yang berbeda tergantung pada bagaimana informasi disampaikan, bukan apa isinya. "Daging ini 90% tanpa lemak" terdengar lebih sehat daripada "Daging ini mengandung 10% lemak" — padahal artinya sama persis. "Tingkat keberhasilan operasi 95%" terdengar menenangkan; "5 dari 100 pasien meninggal karena operasi ini" terdengar menakutkan — padahal faktanya sama saja.
Jebakan bingkai ada di mana-mana dalam kehidupan sehari-hari: iklan menyajikan "hemat 30%" (bukan "kamu masih bayar 70%"), toko menulis "beli 2 gratis 1" (bukan "harga per satuan naik"), dan guru bilang "80% murid lulus" (bukan "20% murid gagal"). Setiap kali seseorang memilih kata-kata tertentu untuk menjelaskan fakta yang sama, mereka sedang membingkai kamu.
Hari ini, setiap kali kamu menerima informasi yang disampaikan secara positif atau negatif, balikkan cara penyampaiannya dan lihat apakah perasaanmu berubah. "Diskon 40%" → balikkan jadi "Masih bayar 60% dari harga." "Berhasil 90%" → "Gagal 10%." "9 dari 10 orang suka produk ini" → "1 dari 10 orang TIDAK suka produk ini." Kalau perasaanmu berubah drastis padahal faktanya sama, berarti kamu baru saja menangkap jebakan bingkai. Lakukan ini untuk 3 informasi hari ini.
🕳️ Hari 12 — Jebakan "Sudah Terlanjur"
Bab 32: Menghitung Skor
Kamu sudah nonton film di bioskop selama 45 menit dan filmnya jelek sekali. Kamu ingin pulang, tapi kamu berpikir: "Sayang tiketnya Rp50.000, mending ditonton sampai habis deh." Ini adalah Jebakan "Sudah Terlanjur" — keputusan untuk melanjutkan sesuatu bukan karena ke depannya akan bagus, melainkan karena kamu sudah mengeluarkan waktu, uang, atau tenaga yang tidak bisa dikembalikan lagi. Kenyataannya? Rp50.000 itu sudah hilang entah kamu tetap nonton atau tidak. Pertanyaan yang benar seharusnya: "75 menit ke depan dari hidupku ini lebih baik dihabiskan di sini atau melakukan hal lain yang lebih menyenangkan?"
Jebakan ini terjadi karena rasa takut kehilangan. Mengakui bahwa uang atau tenaga yang sudah kita keluarkan itu sia-sia itu rasanya seperti rugi, dan otak kita ingin menghindari rasa sakit itu. Jadi kita terus melanjutkan — proyek yang gagal, hubungan yang sudah mati, pelajaran yang salah jurusan, atau antrian yang sudah panjang — hanya karena "sudah terlanjur." Makin banyak yang sudah dikeluarkan, makin sulit untuk berhenti. Padahal seharusnya justru makin banyak alasan untuk berpikir ulang.
Kahneman menekankan bahwa keputusan yang benar hanya melihat ke depan: apa untung-ruginya kalau aku lanjutkan MULAI DARI SEKARANG? Bukan berapa yang sudah aku keluarkan kemarin. Kemarin sudah lewat. Tidak bisa diubah. Jangan biarkan masa lalu menyandera masa depanmu.
Tuliskan satu hal yang masih kamu lakukan hanya karena sudah terlanjur — bisa berupa: les yang tidak kamu nikmati tapi sudah bayar, buku yang membosankan tapi "sayang sudah baca setengah," antrean yang sudah kamu tunggu lama, atau kebiasaan yang tidak berguna. Tanyakan: "Kalau aku belum mengeluarkan apa-apa, apakah aku akan MEMULAI ini sekarang?" Kalau jawabannya tidak, pertimbangkan untuk berhenti. Uang, waktu, dan tenaga yang sudah keluar tidak bisa kembali — jangan biarkan mereka mengatur masa depanmu.
👤 Hari 13 — Dua Diri Kamu: Yang Merasakan dan Yang Mengingat
Bagian Kelima Buku: Dua Diri
Di bagian terakhir bukunya, Kahneman membahas sesuatu yang sangat menarik: kita semua sebenarnya punya dua "diri" di dalam kepala. Yang pertama adalah Diri yang Merasakan — yaitu "kamu" yang hidup di momen ini, yang merasakan sakit, senang, bosan, lapar, gembira detik demi detik. Yang kedua adalah Diri yang Mengingat — yaitu "kamu" yang mengevaluasi pengalaman setelah semuanya selesai: "Gimana ya liburanku kemarin?" Dua diri ini sering tidak sependapat.
Kahneman menemukan sesuatu yang mengejutkan yang ia sebut Aturan Puncak dan Akhir. Diri yang Mengingat ternyata menilai sebuah pengalaman bukan dari rata-rata keseluruhan perasaan, melainkan hanya dari dua momen: momen paling intens (entah senang atau sedih) dan momen terakhir. Dalam percobaan, peserta memasukkan tangan ke air yang sangat dingin selama 60 detik. Di percobaan kedua, tangan dimasukkan selama 60 detik ke air yang sama dinginnya, lalu 30 detik tambahan di air yang sedikit lebih hangat. Secara logika, percobaan kedua itu lebih "buruk" karena tangannya lebih lama kedinginan. Tapi peserta justru memilih untuk mengulangi percobaan kedua — karena akhirannya sedikit lebih enak!
Aturan ini menjelaskan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Kenapa liburan seminggu yang biasa-biasa saja tapi diakhiri dengan makan malam yang luar biasa terasa "menakjubkan" dalam ingatan? Kenapa pertemanan 5 tahun yang menyenangkan tapi diakhiri dengan pertengkaran hebat dikenang sebagai "pertemanan yang buruk"? Karena Diri yang Mengingat tidak adil — ia menilai dari puncak dan akhiran, bukan dari keseluruhan.
Malam ini, evaluasi harimu dari dua sudut pandang. Pertama, Diri yang Merasakan: tuliskan momen-momen spesifik hari ini — kapan kamu merasa senang, kapan bosan, kapan kesal. Berapa persen waktu kamu benar-benar "bahagia" hari ini? Kedua, Diri yang Mengingat: tanpa berpikir lama, beri nilai keseluruhan hari ini dari 1 sampai 10. Bandingkan kedua jawaban. Apakah ada perbedaan? Kemungkinan besar, Diri yang Mengingat kamu dipengaruhi oleh hal terakhir yang terjadi hari ini — bukan rata-rata keseluruhan hari.
📅 Hari 14 — Kenapa Rencana Kita Selalu Meleset?
Bab 23: Pandangan dari Luar
Pernahkah kamu memperkirakan PR selesai dalam 1 jam, tapi ternyata butuh 4 jam? Atau memperkirakan proyek kelompok selesai dalam seminggu, tapi molor jadi sebulan? Kamu tidak sendirian. Ini disebut Jebakan Perencanaan — kecenderungan semua manusia untuk meremehkan waktu, biaya, dan kesulitan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sesuatu, sambil secara bersamaan melebih-lebihkan hasilnya. Yang aneh, ini terjadi bahkan pada orang yang sudah berkali-kali mengalami keterlambatan sebelumnya — mereka tetap optimis berlebihan untuk rencana berikutnya!
Kahneman membedakan dua cara merencanakan. Cara pertama, Pandangan dari Dalam: kamu merencanakan berdasarkan detail spesifik rencanamu sendiri — "Rencanaku unik, timku bagus, pasti tidak ada masalah." Cara kedua, Pandangan dari Luar: kamu melihat catatan proyek serupa yang pernah dilakukan sebelumnya — "Berapa lama proyek seperti ini biasanya selesai? Berapa persen yang molor?" Pandangan dari Dalam hampir selalu terlalu optimis. Pandangan dari Luar jauh lebih akurat.
Contoh terkenal: pembangunan Gedung Opera Sydney di Australia awalnya diperkirakan selesai dalam 4 tahun dengan biaya Rp100 miliar. Kenyataannya? 16 tahun dan biaya Rp1,4 triliun — 14 kali lipat dari perkiraan awal! Ini bukan pengecualian; ini adalah hal yang biasa terjadi. Tapi setiap perencana baru selalu yakin bahwa proyeknya akan berbeda. Itu Jebakan Perencanaan.
Ambil satu tugas yang sedang kamu kerjakan. Pertama, buat perkiraan waktu penyelesaian berdasarkan perasaanmu (Pandangan dari Dalam). Lalu, tanyakan pada dirimu sendiri: "Berapa lama tugas serupa pernah aku kerjakan sebelumnya?" Atau tanya teman yang pernah mengerjakan hal mirip. Ambil angka itu dan kalikan perkiraan awalmu dengan 1,5 sampai 2 kali lipat. Hasilnya hampir pasti lebih akurat. Mulai sekarang, selalu pakai Pandangan dari Luar sebelum menjanjikan kapan sesuatu selesai.
🌟 Hari 15 — Menggabungkan Semuanya: Hidup dengan Pikiran Lebih Jernih
Menjadi Pengamat Pikiran Sendiri
Selama 14 hari terakhir, kamu sudah belajar bagaimana otakmu benar-benar bekerja — dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Kamu sekarang tahu bahwa Otak Cepat itu gesit tapi ceroboh, Otak Lambat itu cermat tapi malas, dan di antara keduanya ada belasan jebakan pikiran yang memengaruhi setiap keputusanmu tanpa kamu sadari. Pertanyaannya sekarang: apa yang bisa kamu lakukan dengan semua pengetahuan ini?
Kahneman sendiri mengakui dengan rendah hati bahwa mengetahui jebakan tidak serta-merta menghilangkannya. Setelah 50 tahun meneliti jebakan-jebakan pikiran ini, ia masih sering terjebak dalam kehidupan sehari-harinya! Tapi ada perbedaan besar: ia bisa mengenali kapan jebakan itu sedang bekerja, dan ia punya alat pikiran untuk mempertanyakan kesimpulan otomatisnya sebelum bertindak. Itulah tujuan sebenarnya dari panduan ini — bukan menghilangkan jebakan (itu mustahil), tapi membangun kebiasaan untuk berhenti sejenak, bertanya, dan berpikir ulang sebelum mengambil keputusan penting.
Berikut 5 kebiasaan pikiran yang bisa kamu bawa seumur hidup dari buku ini:
- Berhenti sejenak sebelum keputusan penting. Beri Otak Lambat waktu untuk bangun dan mengecek jawaban Otak Cepat.
- Selalu tanyakan: "Apa yang belum aku tahu?" Ini melawan jebakan "Yang Terlihat Adalah Segalanya."
- Cari data dan angka dasar, jangan hanya mengandalkan cerita dan kesan. Ini melawan jebakan kemiripan dan jebakan mudah diingat.
- Balikkan cara penyampaian informasi untuk melihat apakah perasaanmu berubah. Ini melawan jebakan bingkai.
- Gunakan pandangan dari luar untuk setiap perkiraan dan rencana. Ini melawan jebakan perencanaan dan rasa percaya diri berlebihan.
Buatlah kartu kecil (dari kertas atau di catatan HP) yang berisi 5 pertanyaan penangkal jebakan pikiran ini dan taruh di tempat yang sering kamu lihat — di kotak pensil, di layar HP, atau di meja belajar: (1) "Apakah aku terlalu yakin?" (2) "Ada angka jangkar yang memengaruhiku?" (3) "Informasi apa yang belum aku punya?" (4) "Bagaimana kalau cara penyampaiannya dibalik?" (5) "Berapa lama hal seperti ini biasanya butuh?" Setiap kali kamu menghadapi keputusan penting — membeli sesuatu, memilih sekolah, menilai orang — baca kartu itu selama 30 detik sebelum memutuskan.
📊 Ringkasan: 15 Hari, 15 Pelajaran
| Hari | Jebakan Pikiran | Inti Pelajaran |
|---|---|---|
| 1 | Otak Cepat dan Otak Lambat | Otak punya mode otomatis (cepat tapi ceroboh) dan mode manual (cermat tapi malas) |
| 2 | Otak yang Malas | Otak Lambat sering menerima jawaban Otak Cepat tanpa mengecek — karena berpikir itu capek |
| 3 | Jebakan Jangkar | Angka pertama yang kamu lihat jadi patokan yang memengaruhi seluruh penilaianmu |
| 4 | Jebakan Mudah Diingat | Apa yang gampang diingat terasa sering terjadi — tapi ingatan bukan data |
| 5 | Jebakan Kemiripan | Kita menilai kemungkinan dari kemiripan dengan bayangan di kepala, bukan dari data |
| 6 | Yang Terlihat Bukan Segalanya | Otak membangun cerita lengkap dari informasi tidak lengkap, lalu merasa sangat yakin |
| 7 | Efek Lingkaran Cahaya | Kesan di satu bidang merembes ke penilaian di bidang lain yang tidak berhubungan |
| 8 | Rasa Percaya Diri Berlebihan | Kita terlalu yakin pada pengetahuan dan tebakan kita sendiri — lebih dari yang seharusnya |
| 9 | Jebakan Melihat ke Belakang | Setelah tahu hasilnya, kita merasa "sudah tahu dari awal" — padahal bohong |
| 10 | Takut Kehilangan | Rasa sakit kehilangan 2 kali lebih kuat dari senangnya mendapat — ini mengubah semua keputusan |
| 11 | Jebakan Bingkai | Cara menyampaikan informasi mengubah pilihan kita, padahal faktanya sama |
| 12 | Jebakan Sudah Terlanjur | Jangan lanjutkan sesuatu hanya karena sudah keluar uang/waktu — yang lewat sudah lewat |
| 13 | Dua Diri: Yang Merasakan dan Yang Mengingat | Ingatan menilai pengalaman dari puncak emosi dan akhiran — bukan rata-rata keseluruhan |
| 14 | Jebakan Perencanaan | Rencana kita selalu meleset — gunakan pandangan dari luar untuk perkiraan yang lebih akurat |
| 15 | Menggabungkan Semua | Jebakan tidak bisa dihilangkan, tapi bisa dikenali — berhenti, bertanya, dan pikir ulang |
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa itu Otak Cepat dan Otak Lambat?
Otak Cepat adalah cara berpikir otomatis yang terjadi tanpa usaha — mengenali wajah, menghitung 1+1, menangkap bola. Otak Lambat adalah cara berpikir sadar yang butuh konsentrasi — menghitung 17 dikali 24, memilih HP yang mau dibeli, mengerjakan soal ujian yang sulit. Otak Cepat selalu aktif dan sangat gesit, tapi sering membuat kesalahan. Otak Lambat lebih teliti, tapi malas dan mudah capek.
Apa itu jebakan jangkar dan bagaimana cara menghindarinya?
Jebakan jangkar adalah kecenderungan otak untuk terlalu bergantung pada angka pertama yang dilihat saat membuat penilaian. Cara menghindarinya: tentukan perkiraanmu sendiri sebelum melihat angka dari orang lain. Kalau mau beli sesuatu, riset harga dulu dari beberapa tempat sebelum melihat "harga diskon." Kalau mau menawar, tentukan harga wajar menurutmu dulu sebelum mendengar harga awal dari penjual.
Kenapa kita lebih takut rugi daripada senang dapat untung?
Karena otak manusia memproses kerugian dengan reaksi yang sekitar 2 kali lebih kuat dibanding keuntungan. Ini sudah tertanam di otak sejak zaman purba — waktu itu, kehilangan makanan bisa berarti mati, jadi otak sangat waspada terhadap kerugian. Di zaman modern, ini membuat kita menghindari risiko secara berlebihan dan mempertahankan hal-hal yang sudah tidak bermanfaat hanya karena takut kehilangan.
Apa beda Diri yang Merasakan dan Diri yang Mengingat?
Diri yang Merasakan adalah kamu yang hidup di momen ini — merasakan sakit, senang, bosan detik demi detik. Diri yang Mengingat adalah kamu yang mengevaluasi pengalaman setelahnya. Diri yang Mengingat menilai berdasarkan momen paling intens dan momen terakhir, bukan rata-rata keseluruhan. Makanya liburan yang diakhiri makan malam enak terasa "luar biasa" dalam ingatan, meskipun sebagian besar waktunya biasa saja.
Kalau tahu jebakan pikiran, apa jebakan itu bisa hilang?
Tidak sepenuhnya. Kahneman sendiri mengaku masih terkena jebakan pikiran setelah 50 tahun menelitinya! Tapi mengetahui jebakan membuat kamu bisa mengenali kapan otakmu sedang tertipu, dan memberimu waktu untuk berhenti sejenak dan berpikir ulang. Tujuannya bukan menghilangkan jebakan (itu tidak mungkin), tapi membangun kebiasaan berhenti, bertanya, dan mengevaluasi sebelum membuat keputusan penting.
Buku aslinya tebal berapa?
Buku aslinya terdiri dari 38 bab dalam 5 bagian, sekitar 500 halaman dalam bahasa Inggris. Panduan tantangan harian ini merangkum konsep-konsep terpenting dari seluruh 5 bagian itu menjadi 15 hari yang mudah dipahami dan langsung bisa dipraktikkan, tanpa harus membaca buku asli yang tebal.
Siapa Daniel Kahneman?
Daniel Kahneman (1934–2024) adalah seorang psikolog kelahiran Tel Aviv, Israel yang besar di Prancis dan bekerja di Amerika Serikat. Ia menerima Hadiah Nobel bidang Ekonomi tahun 2002 untuk penelitiannya tentang cara manusia mengambil keputusan. Yang unik, ia bukan ahli ekonomi melainkan psikolog — menjadikannya satu dari sedikit non-ekonom yang memenangkan Nobel Ekonomi. Ia meninggal dunia pada Maret 2024 di usia 90 tahun.
